JAKARTA - Menjelang waktu berbuka puasa, aroma manis santan dan gula aren kerap tercium dari dapur-dapur masyarakat Indonesia.
Sajian hangat bernama kolak pisang hampir selalu hadir di meja makan sebagai pelengkap momen berbuka. Namun, siapa sangka, di balik rasanya yang legit dan tampilannya yang sederhana, kolak pisang menyimpan kisah panjang tentang sejarah, budaya, dan penyebaran Islam di Nusantara.
Hidangan ini bukan sekadar pelepas dahaga setelah seharian berpuasa, tetapi juga menjadi bagian dari strategi dakwah yang lembut dan membumi.
Kolak pisang telah lama menjadi sajian wajib saat berbuka puasa di Indonesia. Hidangan manis berbahan dasar gula aren, santan, dan pisang ini bukan sekadar takjil, melainkan menyimpan jejak sejarah panjang yang berakar kuat dalam tradisi Nusantara.
Keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari perjalanan Islam di tanah Jawa, terutama pada masa awal perkembangan kerajaan-kerajaan Islam.
Jejak Awal Kolak dalam Sejarah Nusantara
Berdasarkan penelusuran sejarah, kolak mulai dikenal luas pada masa kerajaan Islam di Nusantara, khususnya pada periode transisi dari Kerajaan Demak menuju Mataram Islam. Namun, jejak kuliner ini ternyata jauh lebih tua dari yang dibayangkan.
Arkeolog sekaligus dosen sejarah dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, mengungkapkan bahwa cikal bakal kolak sudah ada sejak tahun 902 Masehi. Saat itu, masyarakat Jawa Kuno mengenal minuman bernama “kilang”, yaitu nira kelapa atau aren yang dimasak hingga mengental menjadi gula merah.
Seiring waktu, masyarakat melakukan inovasi dengan menambahkan santan serta potongan ubi dan pisang ke dalam kilang yang telah matang. Dari proses adaptasi inilah lahir sajian yang kini dikenal sebagai kolak.
Transformasi tersebut menunjukkan bahwa kolak bukan makanan instan yang muncul begitu saja, melainkan hasil perkembangan budaya kuliner yang berlangsung berabad-abad.
Perubahan komposisi bahan itu memperlihatkan kemampuan masyarakat Nusantara dalam mengolah sumber daya lokal menjadi hidangan bercita rasa khas.
Gula aren yang melimpah, santan dari kelapa, serta pisang dan ubi yang mudah ditanam menjadikan kolak sebagai makanan yang merakyat dan mudah diterima semua kalangan.
Asal-Usul Nama dan Makna Religius
Asal-usul nama kolak pun memiliki beberapa versi. Menurut Kiai Hasbullah, kata “kolak” diyakini berasal dari bahasa Arab “kul laka” yang berarti “makanlah untukmu”. Ada pula pendapat yang mengaitkannya dengan kata “khaliq” atau “khalaqa” yang merujuk pada Sang Pencipta.
Penafsiran ini memperlihatkan adanya sentuhan nilai-nilai Islam dalam penamaan hidangan tersebut. Bukan hanya sekadar makanan, kolak juga dimaknai sebagai pengingat hubungan manusia dengan Tuhan.
Penyebutan istilah yang berakar dari bahasa Arab memperkuat dugaan bahwa kuliner ini turut menjadi medium penyampaian ajaran Islam secara halus.
Pada masa penyebaran Islam di Jawa, kolak disebut-sebut dimanfaatkan para wali sebagai media dakwah. Sajian ini dipilih karena sederhana, mudah dibuat, serta akrab dengan masyarakat sehingga pesan keagamaan lebih mudah diterima.
Pendekatan budaya seperti ini terbukti efektif, karena masyarakat tidak merasa digurui, melainkan diajak memahami ajaran melalui simbol-simbol yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Filosofi Bahan dalam Seporsi Kolak
Menariknya, setiap bahan dalam kolak mengandung filosofi tersendiri. Pisang kepok dikaitkan dengan kata “kapok” yang menjadi simbol ajakan untuk bertobat. Ubi atau telo pendem melambangkan upaya mengubur kesalahan masa lalu.
Sementara santan atau “santen” dalam bahasa Jawa diartikan sebagai “pangapunten”, pesan tentang pentingnya memohon ampun kepada Tuhan.
Simbolisme tersebut memperlihatkan bagaimana makanan dijadikan sarana refleksi spiritual. Setiap suapan kolak seolah menjadi pengingat agar manusia menyadari kesalahan, menyesalinya, dan bertekad memperbaiki diri. Filosofi ini sangat selaras dengan makna Ramadan sebagai bulan introspeksi dan penyucian diri.
Pendekatan dakwah melalui kuliner juga menunjukkan kearifan para wali dalam memahami karakter masyarakat Jawa. Alih-alih menyampaikan ajaran secara keras, mereka memilih cara yang lembut, penuh makna, dan menyentuh keseharian masyarakat. Kolak menjadi salah satu contoh bagaimana agama dan budaya dapat berpadu harmonis.
Tradisi Syaban dan Perkembangan Varian Kolak
Pada awalnya, kolak dikonsumsi pada bulan Syaban sebagai pengingat untuk mempersiapkan diri menyambut Ramadan. Namun kini, kolak identik sebagai menu berbuka puasa yang hadir sepanjang bulan suci. Tradisi ini terus bertahan dan bahkan semakin kuat dari generasi ke generasi.
Dengan bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan di berbagai daerah seperti gula aren, pisang, ubi, dan santan kolak berkembang menjadi beragam varian.
Mulai dari kolak biji salak, kolak nangka, hingga kolak durian, semuanya memperkaya khazanah kuliner Nusantara yang sarat makna sejarah dan spiritualitas.
Perkembangan variasi tersebut membuktikan bahwa kolak mampu beradaptasi dengan selera zaman tanpa kehilangan akar tradisinya. Meski tampil dalam bentuk dan rasa yang beragam, nilai simbolis serta jejak sejarahnya tetap melekat.
Di tengah modernisasi dan maraknya hidangan kekinian, kolak pisang tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Ia bukan sekadar makanan pembuka puasa, tetapi juga pengingat akan perjalanan panjang dakwah Islam yang menyatu dengan budaya lokal.
Setiap Ramadan tiba, kolak seakan menghidupkan kembali pesan para wali tentang pertobatan, pengampunan, dan kedekatan kepada Sang Pencipta.
Melalui semangkuk kolak, tersaji bukan hanya rasa manis, tetapi juga warisan sejarah dan nilai spiritual yang terus hidup dalam tradisi masyarakat Indonesia hingga hari ini.